Selasa, 30 Juli 2019
Burung Bayan
Pernah dengar nama burung bayan dalam cerita Melayu Klasik, kan? Nah, burung bayan tersebut ternyata adalah burung gagak.
Burung gagak banyak terdapat di Kota Penang, Malaysia. Burung gagak beterbangan dengan bebas di sana. Keramaian Kota Penang ternyata tidak mampu mengusiknya. Tentu saja Pemerintah Kota Penang membiarkan burung gagak ikut menjadi "warga Kota Penang" hehehe... Diduga kuat, sebelum Pulau Pinang didiami oleh manusia, pulau tersebut adalah tempat bermukimnya gagak-gagak tersebut.
Kini beberapa tempat di Penang dinamai dengan nama burung gagak atau burung bayan ini. Nama tersebut seperti Bayan Baru dan Bayan Lepas...
Traveling yuk ke Penang atau Pulau Pinang. Banyak wisatawan asing yang berkunjung ke Pulau Pinang ini. Mereka seperti orang Eropa, Korea, Arab, dll. Orang Indonesia juga banyak yang berkunjung ke Penang. Cuma mereka umumnya datang untuk berobat, terutama para penderita penyakit kanker. Karena katanya banyak pasien yang sudah sembuh dari penyakit kanker setelah beberapa tahun berobat di Penang. Tapi sakit kankernya jangan yang sudah stadium tinggi baru berobat ke sini ya...
Mari sama-sama kita menjaga kesehatan sehingga tidak perlu datang ke Penang untuk berobat. Cukup datang ke Penang untuk sekadar traveling saja sambil menikmati alam semesta ciptaan Allah SWT...🙏
Sabtu, 20 Juli 2019
Negeri Sembilan, Seremban Malaysia,
Juli 2019.
Beberapa kali sudah kami ke Malaysia, terutama lewat darat dari Singapura ke Kuala Lumpur. Jika lewat darat, kami menginap di Johor Baru, kemudian dari terminal Larkin di Johor Baru, kami naik bus ke Kuala Lumpur.
Dari Larkin, Johor ke Kuala Lumpur sekitar 4 - 5 jam perjalanan. Sepanjang jalan, terlihat negeri yang elok, ditumbuhi dengan pohon sawit dan sesekali diselingi dengan bunga di sepanjang jalan tolnya. Di jalan tol, sesekali juga terlihat sepeda motor yang lewat. Jadi di jalan tol yang menghubungkan Johor Baru dengan Kuala Lumpur Malaysia, dilewati oleh pengendara mobil dan sepeda motor.
Setelah sekitar tiga jam perjalanan dari Johor Baru ke Kuala Lumpur, kita akan melewati suatu daerah yaitu Negeri Sembilan, Seremban Malaysia. Saat itu saya teringat cerita guru Sejarah di SMP saya bahwa saat Indonesia masih berupa Nusantara, maka Malaysia termasuk bagian dari Nusantara tersebut. Nah, untuk Malaysia, masyarakat Minangkabau, khususnya daerah Bukittinggi, Sumatera Barat, ada negeri duplikatnya, yaitu Negeri Sembilan di Malaysia. Di sana ada beberapa rumah adat Minang dan daerahnya pun agak menyerupai Bukittinggi, Sumatera Barat. Karena penasaran dengan Negeri Sembilan yang konon katanya hampir seperti salah satu daerah di kampung kami tersebut, akhirnya dengan "setengah memaksa" saya mengajak suami agar mau traveling lagi ke Malaysia. Seperti apa sih Negeri Sembilan? Bagaimana rumah adat Minangnya? Bagaimana daerahnya? Dan lain-lain.
Ternyata di sana memang ada beberapa rumah adat Sumatera Barat yang umurnya sudah ratusan tahun. Bangunannya masih begitu indah, kuat, dan terawat.
Ohya, cerita rumah adat Minang di Negeri Sembilan, saya pernah melihat bayangan seorang wanita cantik dan terhormat di dalam rumah adat tersebut saat kami menaikinya. Wanita itu wajahnya tidak menakutkan, namun karena kebetulan hanya saya berdua suami yang sedang berada di dalam rumah tua dan secara sekilas saya melihat ada 'orang ketiga', seketika saya jadi merinding dan segera mengajak suami agar buru-buru turun dan keluar dari rumah adat tersebut. Saat itu suami saya jadi rada protes, kok saya segera menarik dia ke luar rumah. Setelah di luar, saya baru cerita jika melihat 'seorang wanita cantik dan terhormat" berada di rumah adat itu. Wanita itu berjalan dari ruang tamu menuju kamar. Rambutnya hitam agak mengembang, kulitnya sawo matang bersih, dengan tubuh rada tinggi. Dia kelihatan agak terganggu, mungkin karena kami ngobrol sambil bercanda-canda di rumah tersebut. Begitu mendengar cerita saya, eh, suami saya malah masuk lagi ke dalam rumah sambil mencari-cari "nenek" tersebut. Duh! 😄
Bersambung
Juli 2019.
Beberapa kali sudah kami ke Malaysia, terutama lewat darat dari Singapura ke Kuala Lumpur. Jika lewat darat, kami menginap di Johor Baru, kemudian dari terminal Larkin di Johor Baru, kami naik bus ke Kuala Lumpur.
Dari Larkin, Johor ke Kuala Lumpur sekitar 4 - 5 jam perjalanan. Sepanjang jalan, terlihat negeri yang elok, ditumbuhi dengan pohon sawit dan sesekali diselingi dengan bunga di sepanjang jalan tolnya. Di jalan tol, sesekali juga terlihat sepeda motor yang lewat. Jadi di jalan tol yang menghubungkan Johor Baru dengan Kuala Lumpur Malaysia, dilewati oleh pengendara mobil dan sepeda motor.
Setelah sekitar tiga jam perjalanan dari Johor Baru ke Kuala Lumpur, kita akan melewati suatu daerah yaitu Negeri Sembilan, Seremban Malaysia. Saat itu saya teringat cerita guru Sejarah di SMP saya bahwa saat Indonesia masih berupa Nusantara, maka Malaysia termasuk bagian dari Nusantara tersebut. Nah, untuk Malaysia, masyarakat Minangkabau, khususnya daerah Bukittinggi, Sumatera Barat, ada negeri duplikatnya, yaitu Negeri Sembilan di Malaysia. Di sana ada beberapa rumah adat Minang dan daerahnya pun agak menyerupai Bukittinggi, Sumatera Barat. Karena penasaran dengan Negeri Sembilan yang konon katanya hampir seperti salah satu daerah di kampung kami tersebut, akhirnya dengan "setengah memaksa" saya mengajak suami agar mau traveling lagi ke Malaysia. Seperti apa sih Negeri Sembilan? Bagaimana rumah adat Minangnya? Bagaimana daerahnya? Dan lain-lain.
Ternyata di sana memang ada beberapa rumah adat Sumatera Barat yang umurnya sudah ratusan tahun. Bangunannya masih begitu indah, kuat, dan terawat.
Ohya, cerita rumah adat Minang di Negeri Sembilan, saya pernah melihat bayangan seorang wanita cantik dan terhormat di dalam rumah adat tersebut saat kami menaikinya. Wanita itu wajahnya tidak menakutkan, namun karena kebetulan hanya saya berdua suami yang sedang berada di dalam rumah tua dan secara sekilas saya melihat ada 'orang ketiga', seketika saya jadi merinding dan segera mengajak suami agar buru-buru turun dan keluar dari rumah adat tersebut. Saat itu suami saya jadi rada protes, kok saya segera menarik dia ke luar rumah. Setelah di luar, saya baru cerita jika melihat 'seorang wanita cantik dan terhormat" berada di rumah adat itu. Wanita itu berjalan dari ruang tamu menuju kamar. Rambutnya hitam agak mengembang, kulitnya sawo matang bersih, dengan tubuh rada tinggi. Dia kelihatan agak terganggu, mungkin karena kami ngobrol sambil bercanda-canda di rumah tersebut. Begitu mendengar cerita saya, eh, suami saya malah masuk lagi ke dalam rumah sambil mencari-cari "nenek" tersebut. Duh! 😄
Bersambung
Langganan:
Komentar (Atom)
